Senin, 01 Januari 2024

Tangisan Paling Menyakitkan Seumur Hidupku - Part 2

 Akhirnya kafan mama ditutup secara sempurna, dan jasadnya diangkat menuju masjid untuk dishalatkan. "Alhamdulillah hari itu yang sholat banyak, Ma. Teteh sholat pakai mukena mama, tapi setelah itu teteh gak inget mukena mama kemana. Maaf ya, Ma!"

Selesai disolatkan, bergegaslah kami ke pemakaman. Aku ditawari untuk duduk di ambulance bersama jenazah mama, tentu tak akan aku menolak. Ini kali terakhirnya aku satu mobil dengan mama, bukan untuk pergi main sekarang, melainkan mengantar mama ke tempat peristirahatan mama. Demi Allah, sakit sekali rasanya. Menambah daftar traumaku mendengar suara sirine ambulance.

Tiba di pemakaman, aku harus menyaksikan tubuh mama masuk ke liang lahat dan di timbun dengan tanah. Rasanya aku ingin ikut, aku tak mau meninggalkan mama sendirian di dalam sana. Aku diberikan kesempatan untuk mengawali penaburan bunga di atas makam mama, pipiku malah makin basah. Hari ini datang juga! hari yang selalu aku takuti datang juga. Dimana aku harus kehilangan surgaKu.

Langit mulai mendung, angin pun terasa kencang, dan orang-orang silih berganti menyalamiku untuk pamit pulang. Aku tak begitu ingat siapa saja disana. Pikiranku mengambang, tubuhku seakan melayang, tatapanku pun hanya ttertuju pada nisan mama. Sampai akhirnya papa mengajakku pulang, tapi aku tak mau. Aku tak mau meninggalkan mama. Tapi papa bilang kasian mama, kasian apa sih? bukannya lebih kasian kalau mama aku tinggal sendiri disana?.

Setibanya di rumah, aku melihat bekal sarapanku yang belum sempat aku makan. Saat itu jam 4 sore, lemas sekali rasanya tubuhku. Kalau bukan karena telur dadar itu masakan mama yang terakhir untukku, mungkin aku tak akan mau makan hari itu. Biar sakit saja, dan mati perlahan pikirku. Aku makan dengan derai air mata. Belum pernah rasanya makan telur dadar kecap semenyakitkan itu. Sesak dadaku sampai ke ulu hati. Entah kapan setelah ini aku mau makan telur dadar lagi, Ma. 

Kami langsung mempersiapkan tahlil mama yang pertama, bada isya. Aku lihat adik-adik pun tak makan, Ma. Mereka juga begitu kehilangan sosokmu. Mama kok tega? Mama cape banget ya?. Buku Yassin ku pegang tapi fikiranku masih melayang entah kemana. Menyusuri jalan cerita hari ini dimana aku menyesali banyak hal.

Pertama, saat jumat malam dimana aku punya 2 box dimsum dimana isinya masing-masing 4 buah. Dimsum itu tak langsung aku keluarkan. Aku malah mengendong Una dan main-main dengan una. Tapi mama juga ikut duduk di lantai bersamaku dan una. Pas mama lihat bungkusan makananku, aku lihat mama lapar karena mama gak masak, dan langsung memakan dimsum tersebut.

"oh iya lupa aku punya dimsum. Sisain ya! aku juga lapar!"

Kemudian aku lihat mama hanya memakan 3 biji saja. Kenapa gak 4 ma? kita bagi 2 kan harusnya?

"hakaunya anyir teh, kurang enak!" kata mama.

Selesai itu mama terus tidur. Sedangkan aku masih merasa lapar, dan papa akhirnya beli nasi goreng ke depan komplek. Aku putuskan tidur sebentar, nanti kan bangun lagi mau buat kue. Tapi begitu bangun, Papa bilang mau beli 2, tapi ternyata papa cuma beli 1. Aku hanya makan beberapa sendok, karena nasinya sudah dingin dan tidak pedas, tak selera pokoknya. Aku lipat lagi bungkusan nasi gorengnya, simpan diatas meja. Ternyata sebelum tahajud mama lapar juga, dan memakan sisa nasi goreng aku.

"Gak enak, Ma. Gak pedes. Udah dingin lagi!"

"Ga apa-apa ganjel perut sebelum solat."

Eh baru 2 suap, adik aku minta nasi gorengnya. Mama kasiin deh ke adik aku.  

Penyesalan aku adalah; malam itu mama lapar tapi aku tak menawarkan mama membeli makanan yang baru, aku malah sibuk dengan kue ku.

Kedua, jumat malam itu mama bilang mama mau pakai mobil buat ke undangan temen mama dan berangkatnya sama papa. Aku bilang aku mau pergi lembur sambil anter kue. Padahal kuenya jadinya di kirim grab. Harusnya aku kasih aja, dan aku berangkat pakai motor. Kalau mama ke undangan kan mama gak akan pergi sepedaan. Semuanya salah aku ya, Ma?

Ketiga, waktu pagi hari ketika mama bercerita tentang kerudung ivan gunawan itu. Harusnya aku gubris dan aku tanggapi dengan hangat cerita lucunya itu. Bukan malah aku cuek dan asik dengan kue ku.

Ke-empat, saat berangkat kerja harusnya aku pandangi dulu wajah mama pagi itu, aku cium tangannya sebelum berangkat. Bukan malah terburu-buru takut terlambat.

"Ma, maafkan perlakuan teteh yang kurang berkenan di hari itu. Bahkan untuk ribuan hari yang pernah kita lewati bersama, aku minta maaf atas segala dosa, perkataan dan perlakuanku yang nyakitin mama."

Hari itu rasanya betul-betul seperti disambar petir di siang bolong. Kaget, tadi mama gak apa-apa kok. Mama sehat kok. Kenapa cuma seling 1 jam semuanya berubah?

Kenapa mama gak ngasih aba-aba?

Kenapa mama gak ngasih pertanda dulu ke teteh?

Kenapa mama pergi saat kami keluarganya tak disampingnya?

Hari itu, semesta menyakitiku dengan cara yang sempurna. Bahkan melihat nafas mama yang terakhir pun aku tak di takdirkan. Jahat sekali!

Jadi, ternyata saat kau berangkat, mama pun berangkat sepedaan berdua dengan temannya yang masih tetangga komplek dan memang biasa sepedaan bareng. Belum jauh, baru menyebrang dari gerbang komplek mama berhenti dan turun dari sepeda. Mama bilang mama pusing. Tapi mama sempet berdiri standarin sepeda, dan bergaya minta foto. Katanya belum sempat foto, mama tiba-tiba jatuh dan gak sadarkan diri. Temen mama itu panik dan langsung minta tolong diangkat ke tempat jualan kelapa muda dekat situ. Setelah itu langsung ke rumah susul papa, karena papa ditelfon gak angkat terus. Sesampainya papa disana, tangan mama udah dingin kata papa. Badan mama sudah dingin, tapi pas papa pegang leher mama masih hangat. Gak lama mama langsung tersenyum.

"eh, seuri gening! hayu urang candak ka rumah sakit!"

Tapi qodorullah, jalanan hari itu maceeeett sekali. Papa bawa mama naik angkot, sambil sesekali dimarahi pengemudi lain karena serobot lawan arah. Di perjalanan papa lihat nafas mama udah gak ada, tapi papa masih berharap mama cuma pingsan. Sampai akhirnya tiba di IGD puskesmas magung, dokter nyatakan mama memang udah gak ada.

Itu singkat sekali, Ma. Kenapa mama gak nunggu teteh dulu? teteh mungkin bisa minta maaf dulu sama mama. Mungkin rasa sakitnya sedikit lebih berkurang dari ini, Ya! walaupun akan tetap sakit. Sampai saat ini, penyesalan terus bergelayut di pelupuk mata, Ma. Ada berjuta kata 'Mengapa' dan berjuta pula kata 'Seandainya'.

Allah sayang mama. Terlalu banyak beban yang mama pikul sendiri, mama pendam sendiri. Ternyata mimpi gigi copot 3 minggu yang lalu itu jadi nyata. Ma, belum ada jawaban istikharoh mama, mama udah pergi aja. kepala mamah sakit banget ya, Ma? Dada mama sesak sama permasalahan anak-anak mama ya, Ma? Terlebih puncaknya saat kasus Ryan ya Ma? Pengen rasanya aku benci sama Ryan. Ryan yang bikin mama sakit belakangan ini, Ma. Tapi mungkin nanti mama lebih sedih di alam sana lihat anak-anak mama saling menyalahkan.

Teteh cuma berharap, mama bahagia disana. Diampuni segala dosa mama, diterima segala amal mama. Diterima sholat taubat mama. Allah lapangkan kubur mama, terangkan kubur mama, semoga mama mendapatkan kebaikan dan alam kubur mama menjadi tempat istirahat yang nikmat bagi mama setelah lelahnya dunia. Semoga teteh bisa jadi anak yang shalehah, supaya doa-doa teteh bisa sampai dan terus mengalir ke mama.

Semoga teteh kuat tanpa mama. Semoga teteh bisa jaga papa, adit dan ryan. Semoga teteh bisa bahagiain papa. Mama yang tenang ya, Ma! maaf kalau teteh masih cengeng. Maaf kalau teteh masih suka manggil-manggil mama. Teteh pasti kangen Mama karena partner teteh dalam segala hal udah gak ada Ma! teteh sendiri sekarang. Teteh sayang mama! semoga kita kelak bertemu lagi di Jannah-Nya. Aamiin.


Minggu, 31 Desember 2023

Tangisan Paling Menyakitkan Seumur Hidupku - Part 1

 Sabtu, 23 Desember 2023 dini hari sekitar pukul 01.00 aku bangun untuk membuat kue ulang tahun yang kebetulan dipesan oleh dosenku di universitas dulu. Kue bertema Mario Bross yang beberapa hiasannya sudah aku cicil  sehari sebelumnya. Terdengar sura mengaji mama, Ya! sudah hampir sebulan ini mama rutin solat taubat, tahajud dan mengaji mulai jam 1 pagi, Alhamdulillah. Sekitar jam 3 pagi mama sudah selesai solat, dan seketika itu juga aku langsung meminta mama menunggu kue ku sebentar yang sedang di oven karena aku baru ingat kalau aku belum solat isya. Mama menunggu kue ku sembari duduk di ruang tamu seraya memegangi handphonenya. Selesai aku solat, mama bilang "Aahh teteh udah beres, mamah mau bobo yaa!". Aku pun mengiyakan, mama memang sering tidur dulu sebentar sembari menunggu subuh. Gantian lah papa yang bangun, karena aku yang minta bantu papa untuk uleni dan warnai fondant sebanyak 3 Kg itu. Berat rasanya tanganku mau copot, hehe.. Tapi kemudian ada masalah setelahnya, fondantnya melorot saat diaplikasikan ke kue, fondantnya retak dan bergelombang, kuenya pun jadi miring. Kesal dan ingin menangis rasanya. Entah mengapa, tidak seperti biasanya. Padahal itu fondant yang biasa aku pakai, bukan sekali dua kali tapi sudah sering. Sampai berjam-jam hanya untuk memperbaiki cover fondantnya, yang akhirnya aku pakaikan double covernya agar rapi.

Sekitar pukul 5.30 pagi aku baru selesai mengcover cakenya, tinggal menghias saja meskipun sedih melihat kuenya tidak serapi biasanya. Ya bagaimana lagi, mengulang dari awal sudah tidak akan mungkin. Mama pun bangun lagi, dan berkata "Teh, muka mamah basah dijilatin Una (Kucing hitam kami)". Aku mendengar tapi aku tidak menggubris karena aku fokus pada kue, antara kesal dan mengejar waktu yang hanya 1 jam lagi. Maaf yaa, Ma.

Sudah jam 6.30, Aku dengar mama memasak telur untuk sarapan. Mama lapar katanya, mau pergi gowes (sepedaan). Mama lanjut sarapan dan bercerita tentang demo masak di komplek kemarin, yang katanya akan dapat hadiah pashmina Ivan Gunawan, tapi ternyata kerudungnya abal-abal, jelek banget bukan ivan gunawan. Haha. Tapi lagi-lagi aku cuek, karena aku semakin dikejar waktu. Oh ya, sehari sebelumnya, Jumat pagi aku memberi mama kerudung Ivan Gunawan yang Humanity Series sebagai hadiah Hari ibu. Sampai mama jadikan status itu kerudung pemberianku, Alhamdulillah kalau mama senang.

Akhirnya kue selesai di jam 7 lebih, aku langsung bergegas order grab untuk antar kuenya karena tidak memungkinkan untuk aku antar sendiri, yaa secara belum mandi kaann makan waktu lagi dong sedangkan kuenya harus sampai di jam 8 pagi. Nah disitu aku udah di puncaknya kesal, karena mamang Grabnya lamaaaaa banget. Aku jadi marah-marah ga jelas. Minta bantu papa untuk pack kuenya, tapi papa lama dan banyak una inu. Aku disitu kesal dan berkali-kali bicara dengan nada kesal pada papa. Biasanya mama akan menegurku, tapi disitu mama hanya memerhatikan tidak bicara sepatah kata pun. Mama sama papa malah foto-foto kuenya dulu, bukannya langsung di masukin box, makin kesal aku karena mang grabnya udh sampai kuenya masih diotak-atik Huhuhu.

Nah selesai kue di pick up jam 7.30, aku mandi dan minta tolong mama bantu setrika bajuku untuk pergi lembur kerja. Mama setrikanya di kamarku, dan hari itu aku cari baju biru susahnya minta ampun secara numpuk banget baju yang belum distrika. Akhirnya dipilih lah yang gampang diambil itu baju warna hitam, kerudungnya aja yang biru. Selesai mandi, di dapur mama bilang "Teh, sarapannya telor dadar aja ya!", "Okeee..!" Jawabku.

Selesai siap-siap, aku berangkat jam 8 pagi.

"Mah, mana tadi sarapan aku?"

"Itu di meja depan!" kata mama seraya menunjuk goodie Bag bekas starbuck yang berisi bekal sarpaan aku.

Aku pun bergegas masuk ke mobil dengan buru-buru takut telat. Yang menghampiri aku hanya papa, sedangkan mama sudah menuntun sepedanya. terdengar mama bertanya ke papah "Pah, kaya yang kempes bannya!"

"Engga, ngga kempes!" Jawab Papa.

Aku pun tancap gas langsung berangkat, tanpa cium tangan mama karena seburu-buru itu.

Belum sampai ke kantor, Papa kok menelfon terus. Tapi dering teleponnya aku abaikan karena aku sedang di jalan, akan aku telfon balik saat aku tiba di kantor pikirku. Apa ada yang tertinggal atau apa aku tak tahu. Sampai akhirnya aku tiba di kantor dengan perasaan yang tidak karuan, pikirku karena aku nyaris kesiangan kali yaa.

Baru saja mau mulai doa pagi, mamang grab menelfon "Bu, rumahnya yang mana ya?"
"Hah? bapa abru sampai daritadi?"
"iya bu jalanan macet!" gitu katanya.
kesalnya aku, karena aku saja yang berangkat jam 8 sudah tiba dikantor. Ini dari setengah 8 baru sampai 9 lebih 15? Gak habis pikir.

Selesai ku tutup telepon mamang grab, masuk lah telepon dari papa.

"Teh, pulang sekarang ya! Mamah masuk rumah sakit!"

"Sakit apa? tadi gak apa-apa ah!"

"Ya pokonya pulang aja sekarang ya!"

Disitu pikiran aku sudah semakin kalut, aku izin dulu untuk pulang. Langsung aku ambil tas seraya berlari menuju tempat parkir. Pikiran udah kemana-mana sepanjang jalan. Aku telfon adik ku karena tadi papa rasanya gak jelas, bikin panik.

"Dit, dimana?"

"di IGD teh mamah sakit."

"Sakit apa? sadar gak mamanya?"

"Iya, tadi mah sadar!" jawab adikku sambil terdengar terisak.

"Mana fotoin mamahnya"

"Iya nanti da ini mau pulang"

"Kenapa pulang? emang udah ga apa-apa mamahnya? hayu bawa ke alihsan aja yuk sama teteh!"

"Gausah da ini udah boleh dibawa pulang! teteh pulang aja ke rumah" jawabnya sambil menutup teleponku.

Bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? di pikiranku sudah terlintas kemungkinan terburuk bahwa mama sudah tidak ada lagi di dunia ini.

tangisku pecah, "Ya Allah jangan mama Ya Allah! Aku saja! Aku mau jual mobil ini buat mama sama papa umroh. Tolong jangan mama, Ya Allah!"

Lemas sekali badanku, nafas rasanya sesak dan sakit ke ulu hati. Ada dingin yang menyelinap ke dalam tubuh, padahal cuaca hari itu sangat panas. Jalanan hari itu sangat macet. Tak aku temukan jalanan kosong sedari kantor hingga ke rumah. Seperti semesta tahu, jika jalanan kosong aku akan memacu mobilku dengan kecepatan tinggi tanpa aku pedulikan keselamatanku. Bahkan aku berpikir untuk menabrakan diriku saat itu, tapi karena jalanan macet "Ah nabrak di jalanan sepadet ini mah gak akan mati!". Astagfirullah.

Aku memaki Allah, aku meratapi nasibku yang entak bagaimana jika tak ada mama. "Bukankah sudah ku mohon berkali-kali Ya Allah. Jangan ambil orangtua ku sebelum aku! biar aku dulu yang mati!"

Aku melirik ke jok sebelah, ada tas starbuck berisi sarapanku tadi. Tangisku makin mengguncah. Aku keluarkan tempat makannya dan aku ambil foto nasi beserta telur dadar kecap itu. Demi Allah menyakitkan sekali rasanya. Membayangkan nasi itu baru saja mama buat, belum sempat aku memakannya, masa mama udah gak ada lagi aja?!.

Setibanya di rumah, aku lihat di depan rumahku sudah terpasang tenda berwana hijau untuk memandikan jenazah. Disitu aku berkata, "Ya Allah, kamu jahat sekali!"

Pas membuka pintu, ada ibu RT berkata "neng, yang sabar ya neng!"

Kalimat itu seolah menjawab semua terkaanku bahwa mama sudah meninggalkan aku untuk selamanya. Badanku benar-benar lemas, tak mampu berdiri, dan aku rasakan tubuhku jatuh dan dibopong orang-orang masuk ke kamar. Aku menangis meraung-raung seperti anak yang sedang tantrum.

"Teh, yuk kuat yuk! Lihat dulu mama untuk yang terakhir kali!"

Disitu kain yang menutupi tubuh mama disingkap sedikit bagian wajahnya.

Aku merangkak menuju mama. Aku pandangi wajahnya yang terlihat tersenyum, tapi sudah sangat pucat. Ku pegang tangannya yang masih lentur tapi sudah sangat dingin. Aku menangis sejadi-jadinya, aku dekap tangannya seolah tak ingin aku lepaskan sedikit pun.

"Aku tidak ikhlas Ya Rabb!" teriakku dalam hati.

Tapi tangan-tangan itu memisahkan tanganku dari mama. Aku dijauhkan kembali dari mama. Jasad Alamrhumah diangkat untuk dimandikan, dan aku pun diajak untuk memandikannya. Ku Pegang wajahnya perlahan, dingin sekaliii. Aku bilas rambutnya, terlihat uban-ubannya tersingkap saat diguyur air perlahan. Demi Allah, sakiitt sekali hatiku saat itu, Ya Rabb! Melihat tubuh mama sudah terbujur kaku, tak dapat bergerak sedikitpun.

Selesai dimandikan, lanjut dikafani di tengah rumah. Kami keluarganya diberi kesempatan untuk mencium kening mama untuk yang terakhir.

"Cium mama untuk yang terakhir kali ya! tapi jangan sampai air matanya menetes, kasian mama sudah dimandikan!"

Aku lihat papa, dan adik-adik aku mencium mama. Saat tiba giliranku, aku tak sanggup. Air mata yang keluar terlalu deras, tak bisa sedikitpun aku tahan. Hingga akhirnya aku tidak mencium mama setelah dimandikan itu. "Maafin teteh gak sanggup cium kening mama untuk yang terakhir, Ma!"


Jumat, 01 Januari 2021

Page 1 of 365

 Page 1 of 365.

Bismillah..

Semoga mulai hari ini, bisa benar-benar menerima dan mengikhlaskan semua kepahitan di 2020. Lebih yakin bahwa Allah adalah hakim paling adil, biar Allah yang membalas segala kecewa, fitnah dan hina yang didapat. Hingga kelak aku bisa menyaksikan keadilannya, dan berkata..

"Oh, ini yang Allah mau. Kebaikan-kebaikan ini yang Allah simpan untukku. Alhamdulillah, aku mengerti sekarang."

2020 tahun yang amat berat bagiku. Titik terrendah yang sudah berhasil aku lewati. Dimana segala harapan hancur, merasa hidup tak lagi bermakna dan tak akan berjalan baik sehingga ingin rasanya kembali ke pangkuanNya. Tapi Alhamdulillah, Allah masih sayang.

Ya Allah, bantu hamba, bimbing hamba. Semoga mulai hari ini dan seterusnya, hamba bisa menjadi seorang hamba yang Kau cintai dan Kau sayangi.

Semoga tak ada lagi air mata di tahun 2021 ini. Semoga Allah mudahkan hajatku untuk menikah di tahun ini. Serahkan semuanya pada Allah. Aku percaya Allah akan hadirkan pasangan yang terbaik menurutNya. Pasangan yang sabar dan menjadi penyejuk hati bagiku dan keluargaku kelak. Aamiin Allahumma Aamiin.

Kamis, 29 Oktober 2020

Mimpi buruk itu bernama Endometriosis (Part 1)

Semua orang pasti merasa punya harapan baru, membangun mimpi-mimpi baru, dan menyusun resolusi yang hendak dicapai di tahun yang baru. Kita berbicara tentang tahun 2020. Begitu pun denganku, banyak sekali yang aku semogakan di tahun ini setelah banyaknya pahit yang mesti aku telan di tahun sebelumnya. Semoga segalanya lekas membaik dan apa yang dicitakan terwujud di 2020 ini. Terutama menikah. Aku ingin segera menikah di tahun ini karena aku rasa aku sudah sangat siap.
Awal tahun ini diawali dengan sakit hebat di bagian perut. Ya, menstruasi yang datang lebih cepat dari seharusnya. Setelah di bulan desembernya pun aku mengalami 2 kali menstruasi dalam sebulan. Malah saat itu baru selesai 1 minggu dari periode sebelumnya aku sudah menstruasi lagi. Saat itu orang-orang bilang aku kecapean, aku terlalu banyak pikiran, tapi aku merasa sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuhku.

13 Januari 2020 akhirnya aku izin tidak masuk kerja, memberanikan diri menemui dokter kandungan untuk memastikan semuanya agar tak terus mengira-ngira yang belum tentu benar. Pagi itu, aku ditemani mama ke salah satu rsud di daerahku. Begitu bertemu dokter, aku ceritakan permasalahanku dan dokter lakukan usg saat itu juga.

"Ya Ampun, ini sih endometriosis." Ucap dokter.
"Apa itu dok?" Tanyaku.
"Kalo haid kamu selalu sakit ya?" Dokter balik bertanya.
"Iya dok, sangat sakit. Dulu aku pernah konsul ke dokter kandungan juga tapi menurutnya rahimku bagus tak ada masalah. Beliau bilang sebagian wanita memang merasakan sakit yang hebat dan aku hanya diresepkan asam mefenamat setiap kali sakit itu muncul di hari pertama hingga hari ke-3." Jelasku.
"Oh begitu.. ini sekarang ada kista di rahim kamu, tepatnya endometriosis. Ada di sebelah kiri dan sebelah kanan, ini yang membuat haid kamu sakit. Dan ini gak boleh dibiarkan!" Tegas dokter.
"Lalu apa itu bahaya, dok?"
"Bahaya sih tidak, tapi endometriosis ini bisa menurunkan kualitas hidup kamu. Kamu akan selalu merasakan sakit di bagian perut selama endometriosis itu berkembang dirahim kamu. Beberapa kasus malah sulit mendapatkan keturunan."

Seketika aku terdiam mendengarkan penjelasan tersebut. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Betul-betul mimpi buruk bagiku, wanita yang belum menikah.

"Lalu apa harus operasi dok?" Tanyaku, lirih.
"Saya gak sarankan operasi dulu, karena kamu kan belum menikah. Saya suntik tapros dulu saja. Nanti kita lihat perkembangannya bulan depan." Jawab dokter.
"Tapi saya bisa punya anak kan, dok?" Tanyaku lagi memastikan.
"Banyak berdoa ya, ikhtiar. Banyak kok pasien saya yang bisa hamil dengan riwayat endometriosis. Kalau bisa kamu segera menikah ya! Biar langsung promil setelah pengobatan!"

Menurut penjelasan dokter, endometriosis adalah jaringan rahim yang tumbuh bukan di tempat semestinya. Bisa di ovarium, saluran tuba, dinding luar rahim, bahkan bisa menempel di usus dan organ lainnya. Untuk penyebabnya sendiri sampai saat ini belum pasti. Ada yang berpendapat genetik, masalah pada sistem imun, ada juga yang berpendapat disebabkan karena menstruasi retrograde dimana darah menstruasi tidak seluruhnya keluar, sebagian naik lagi ke tuba falopi dan masuk ke organ panggul. Darah/jaringan tersebut kemudian mengendap sehingga menyebabkan peradangan, jaringan parut, atau kista.

Dokter saat itu memvonisku mengidap kista endometriosis. Jenis kista yang terbentuk karena jaringan endometrium tumbuh di ovarium. Dengan ukuran 8cm dan 4cm (saya lupa mana yang kanan mana yang kiri). Berikut hasil usgnya.


Ukurannya sudah besar, tak ada waktu untuk saya menunda-nunda pengobatan. Hari itu saya menjalani suntik tapros, dan diresepkan 30 butir tablet kalsium yang harus saya konsumsi setiap hari selama sebulan ke depan. Bulan depan aku kontrol lagi untuk evaluasi cocok tidaknya tapros itu untuk meredam endometriosisku.

Harga sekali suntik itu sekitar 750ribuan kalo aku tak salah ingat. Ditambah tablet kalsium sekitar 250ribu untuk 30 tablet. Aku keluar dari ruang dokter seraya menahan tangis. Melihat air wajahku yang berbeda, mama hanya bisa diam tak bertanya apa-apa. Hingga tiba di rumah, pecah sudah tangisku. Rasanya langitku runtuh, aku merasa kehilangan masa depanku, aku takut sulit memiliki keturunan, aku berpikir laki-laki mana yang akan mau menerima keadaanku yang seperti ini? Apakah laki-laki yang saat itu bersamaku akan menetap ketika tahu aku sakit? Benar-benar yang aku lakukan seharian itu hanya menangis di kamar. Bahkan saat laki-laki terdekat ku saat itu menanyakan hasil pemeriksaanku hari itu, aku hanya bisa menangis sesenggukan enggan untuk menceritakan.

Lalu, bagaimana rasanya setelah suntik tapros? Nanti aku ceritakan di part 2 yaaa.. see you..

Kamis, 01 Desember 2016

Desember

Halo Desember, kita berjumpa lagi. Aku rindu padamu. Ah bukan, maksudku aku rindu pada semua yang pernah ku temui padamu.

Padamu, aku pernah mengenalnya. Padamu, aku pernah menjumpai hujan yang sampai sekarang selalu aku rindukan. Padamu, aku pernah mengenal cinta. Padamu juga, aku mengenal patah hati. Padamu, aku merasa hidupku jauh lebih indah. Namun padamu juga, aku merasakan bagaimana langitku runtuh. Padamu, aku merasakan pahitnya kehilangan. Kehilangan seseorang, kehilangan harapan, bahkan kehilangan semangat menjalani hari. Hanya padamu lah, ada dinginnya udara yang khas dan rasanya hingga saat ini masih bisa aku sesap dalam-dalam.

Terimakasih, Desember. Aku senang berjumpa lagi denganmu. Apa yang akan kamu berikan padaku pada pertemuan kita kali ini? Aku rapalkan doa semoga banyak keindahan dan kebaikan akan ku jumpai padamu kini. Sungguh, aku berharap demikian.

Bandung, 1 Desember 2016.
Aku, yang selalu merindu Desember.

Senin, 23 Mei 2016

Odontektomi Pertama Kali dan (InsyaAllah) yang Terakhir

Aku mau cerita panjang dan lebar nih, semoga kuat bacanya ya guys.. Siapin cemilan sama minuman jangan lupa.

Jadi begini..
Aku pernah cabut gigi berlubang sekitar tahun 2010, dan rasa sakit serta ngilunya masih terbayang sampai sekarang. Sampai akhirnya aku bertekad harus rawat ini gigi baik-baik biar gak sakit gigi lagi, dan gak perlu mengalami kejadian menyakitkan seperti itu lagi. Oke. Aku jadi lebih rajin sikat gigi dari sebelumnya. Tapi, ternyata sekitar tahun 2013 gigi aku sakit lagi. Gigi geraham sebelah kiri tepatnya, dan ternyata eh ternyata gusinya membengkak.
"Oh, palingan tumbuh si gigi bungsu." pikirku, karena tiga gigi bungsu sudah tumbuh dan tinggal di bagian kiri bawah yang belum.
Saat itu aku hanya minum obat penghilang nyeri, dan memang setelah beberapa hari sudah tak ada ngilu lagi meski memang gusi masih bengkak. Si bungsu pun sudah mulai mengintip sedikit dari balik gusi.

Singkat cerita, hingga tahun 2015 itu si bungsu masih begitu saja tidak ada perkembangan. Masih terbenam dalam gusi, hanya separuhnya saja yang nampak. Si bungsu pun mulai menimbulkan masalah, dia bikin kepala migrain dan ngilu setiap mengunyah. Kembali aku minum obat penghilang nyeri tapi ketika reaksi obatnya habis, itu ngilu balik lagi.
Mencoba memanfaatkan mesin pencari informasi di internet, baca sana-sini ternyata yang aku alami namanya Impaksi. Gigi bungsu tumbuh tidak normal/tidak tegak seperti seharusnya dan untuk mengeluarkannya harus dengan operasi bedah mulut atau dalam bahasa kedokteran disebut Odontektomi.
Seperti ini kurang lebih gambarannya :


Nah, gigiku yang kiri bawah itu kurang lebih Angular seperti gambar diatas (tidak bisa menembus gusi). Dua gigi atas yang kiri dan kanan tumbuh sempurna (keluar semua), tapi arahnya bukan ke bawah, malah ke samping menabrak dinding mulut. Begitu kira-kira.

Akhirnya, Oktober 2015 aku beranikan diri untuk temu kangen dengan dokter gigi untuk lebih memastikan.

Dokter : "Giginya kenapa, Neng?
Aku : "Ini gigi aku impaksi kayanya, Dok."
Dokter : "Wah kok ngerti impaksi? Yuk baring, kita cek dulu!"
Aku : "Ngerti dong, Dok. Jaman sekarang nyari informasi gampang hehe.."
*Setelah dicek*
Dokter : "Wah iya ini impaksi, harus cepet diangkat tuh kasian gigi sebelahnya. Gak bisa di klinik ya, ini kamu harus ke RS nemuin spesialis bedah mulut."
Aku : "Iya, Dok!"

Pulang deh dikasih obat kumur gitu buat meredakan peradangan di gusi kata dokternya. Tiba di rumah kok ya nyali ciut, cabut gigi aja begitu sakitnya apalagi ini pake operasi segala. Apalagi si gigi udah gak kerasa ngilu-ngilu lagi akhirnya dibiarin lagi deh, hahaha.. Sampai akhirnya sadar sendiri kalau itu gigi kaya bom waktu, suatu saat bakalan bisa nyutnyutan lagi dan mungkin jauh lebih sakit dari yang pernah dialami kemaren. Oke, bulan April 2016 yang artinya 6 bulan kemudian setelah periksa ke dokter itu, akhirnya aku pergi ke RS ditemani mama kesayangan.

Bertemulah dengan sang dokter spesialis bedah mulut.
Aku : "Dok, gigi saya sebelah kiri bawah ini impaksi."
Dokter : "Wah mbaknya ngerti impaksi juga ya, anak kesehatan mbak?"
si dokter belum selesai ngomong aku potong, "Bukan dok, aku cuma searching aja info tentang gigi."
Dokter : "Oh gitu, saya kira perawat soalnya ngerti impaksi."
Aku : *dalam hati* "Emang kalau orang awam gak boleh ngerti? kok pada heran waktu aku bilang impaksi?"
*Sambil dicek gigi*
Dokter : "Iya ini giginya harus diangkat, yang kiri atas, kiri bawah sama kanan atas. Angkatnya harus anestesi umum ini, gabisa lokal."
Aku : "Hah??! Tiga?" kataku, kaget.
Dokter : "Iya itu yang bawah miring ke depan, yang dua lagi miring nabrak dinding mulut. Itu bisa bikin dinding mulut kamu sering kegigit terus gampang sariawan juga."
Aku : "Oh gitu, pantesan. Emang sering banget kegigit sih, Dok."
Dokter : "Ini biaya pergiginya sekitar 5juta, ada BPJS ga?"
Aku : "Ada."
Dokter : "Mending pake BPJS aja, gratis nanti gak keluar sepeser pun."
Aku : "Oke, Dok!"

Dasar pelit, denger kata gratisan langsung mau aja.. hahaha.. kan lumayan itu biayanya, belum biaya untuk rawat inapnya berapa karena anestesi umum kan otomatis nginep dulu di RS. Gesit deh minta surat rujukan ke klinik yang jadi FasKes primernya. Kemudian selama 3 hari terus bolak-balik RS buat foto panoramic dan Thorax, abis itu juga harus cek darah dan konsultasi ke bagian penyakit dalam. Akhirnya ACC juga untuk operasi, yaitu dijadwalkan tanggal 12 Mei 2016.

Tanggal 10 Mei 2016, aku dihubungi pihak RS katanya jadwal operasi diundur karena tidak ada ruangan. Untuk jadwal berikutnya nanti akan dihubungi kembali. Oh, oke. 3 hari kemudian, masih belum ada kepastian kapan, sedangkan aku khawatir akan bentrok pas jadwal operasi pas lagi banyak-banyaknya kerjaan. Bahaya nanti bisa dimarahin para customer, dong. Inisiatif deh pergi ke RS nanya langsung biar lebih pasti dan ternyata aku dijadwalkan tanggal 18 Mei jam 8 pagi, sebelumnya puasa dari jam 4 pagi. Nah kan kalau sudah ada kepastian lebih enak, bisa kosongin jadwal buat tanggal 18.

Tiba tanggal 18 jam setengah 9 aku baru sampai RS. Macet, bok! setibanya disana langsung kasih formulirnya, antri nunggu dipanggil deh. Setengah jam kemudian, dipanggil disuruh menuju pendaftaran rawat inap. Nunggu lagi setengah jam. Setelah itu aku dan mama diantar perawat menuju ruang operasi di lantai 3. Mulai deh ini jantung dagdigdug gak karuan, ingin lari balik lagi ke rumah rasanya.

Sekitar jam 10 kurang aku ganti baju operasi, ditanya perawatnya sudah puasa atau belum dan dengan apa sahurnya tadi. Aku jawab dengan telur dadar sama sosis 2. Hahaha.. perawatnya senyum sambil bilang, "Sip!". Aku mulai dicek tekanan darah, denyut nadi, dipasang nurse cap, dll. Si perawat yang 2 orang itu kemudian dorong brankarku masuk ke ruang operasi sambil nyuruh berdoa dan gak boleh tegang. Di dalam ruang operasi mulai dipasangin infus, tensimeter, dan alat lainnya. Kemudian 2 orang anak koas izin masuk mau lihat aku operasi, dan dokternya mengizinkan. Setelah itu aku disuntikan obat anestesinya satu persatu, pertama di tangan, rasanya lumayan "peureus" kalau kata orang sunda.

Sejak itu udah deh aku gak inget apa-apa lagi sampai akhirnya ada yang menepuk pundakku bilang, "Cynthia, operasinya selesai. Bangun yuk!". Aku denger suara itu, suara mama, suara dari monitor penampil EKG, tekanan darah, dsb. Aku denger, tapi mata susah banget buat dibuka, badan apalagi susah buat digerakin. Beberapa saat terus begitu sampai akhirnya ya mulai bisa menggerakan jari tangan, dan mata kebuka sedikit, nutup lagi, kebuka lagi, nutup lagi. Begitu terus, karena memang rasanya itu mata berat banget. Gak lama kemudian aku mulai batuk-batuk, mual, pusing, tapi akhirnya mata bisa dibuka sepenuhnya. Perawat kemudian melepas peralatan dan juga selimut penghangat di badan aku, seraya bertanya "kuat duduk ga?". Aku gak bisa jawab karena ternyata di mulut dipasang tampon dan mulut pun penuh dengan darah. Hanya bisa menggeleng, kemudian perawat pun membantu menggeserkan badanku pindah ke brankar untuk dibawa ke ruangan inap.

Tiba di ruangan, cairan infus diganti dan aku dipersilahkan untuk istirahat. Mama langsung cerita-cerita kalau tadi aku paling lama tidur di Post Anestesi Care Unit (pemulihan). Masuk ruangan pemulihan sekitar jam 11 dan jam 12.16 baru sadar. Pasien yang operasi sesudah aku malah sudah pindah ke ruangan lebih dulu, sedangkan aku masih belum sadar, denyut jantungnya masih lemah dan suhu tubuh juga dingin. Panik si mama, emang dasarnya si mama itu panikan, apa-apa suka dibawa pusing. Itu mungkin akunya aja kepulesan boboknya, Ma. Hihihi..

Aku minta dianter ke kamar mandi, dan ternyata pas berdiri astaga kepala kleyengan, kaki lemasnya minta ampun sampai harus dipapah sama mama. Aku ke kamar mandi buat *maaf* muntahin darah yang udah penuh dalam mulut. Daann.. plok.. si tamponnya juga ikut keluar. Ya sudah, buang deh. Pas balik ke tempat tidur, perawat datang lagi.

Perawat : "Teteh, itu tamponnya mana?"
Aku : "Dibuang, bu. Barusan kemuntahin"
Perawat : "Aduh teh, itu gak boleh dimuntahin karena nanti ngerusak bekuan darah di lokasi operasinya."
Aku : diam seribu bahasa sambil kedip-kedip, haha..
Akhirnya si ibu perawat bawain tampon lagi, dipasangin lagi deh dan itu gak boleh di lepas dulu sampai darahnya beneran beku dan berenti keluar.

Jam 6 sore, perut udah krubuk-krubuk. Pasti cacing di perut udah pada pawai sambil teriak-teriak kalau ini udah waktunya buka puasa. Sayangnya aku masih belum dibolehin makan karena belum buang angin. Hanya boleh minum, minumnya pun 1 sdm aja. Nanti selang 30 menit 1 sdm lagi, begitu terus. Kalau tampon alhamdulillah udah dibuka pas sore, karena udah gak berdarah lagi. Sampai jam 8 malem masih belum mau buang angin, perut udah gak tahan lapernya. Alhamdulillah bu perawatnya bolehin aku makan, karena sudah lama juga jeda waktu dari operasinya. Makannya cuma bubur sumsum yang pakai gula merah itu. Itu bubur kesukaanku, tapi waktu itu rasanya itu bubur paling gak enak karena mungkin lidah aku belum bisa rasain manis dengan benar juga.

Besok pagi, baru deh itu angin minta keluar. Makannya pun bubur sumsum lagi. Siang menjelang sore dokter udah bolehin aku pulang, akhirnya beres-beres sambil nunggu mama tebus obat. Selama 24 jam itu aku gak dibolehin dulu sikat gigi, aku dikasih obat kumur buat bersihin mulutnya. Makannya harus yang lunak-lunak sampai nanti mulut udah bisa buat ngunyah kayak biasa. Pas malemnya aku coba makan nasi tim ayam, ayamnya gak aku kunyah melainkan ditelan bulat-bulat. Oh astaga itu nasinya ada yang nyangkut ke daerah jahitan. Jangan tanya itu sakit apa ngga!. Oke, aku putuskan untuk makan bubur aja dulu sampai agak enakan buat ngunyah.

Bagiku hari-hari pasca operasi gigi bungsu itu sungguh menyiksa. Makan susah, bicara susah, belum lagi pas gosok gigi pasti perih dan berdarah-darah meskipun itu udah pelan dan hati-hati. Tetep deh pasti gosok gigi sambil berderai air mata, ditambah perihnya pasta gigi yang menyentuh sariawan-sariawan di mulut yang entah mengapa banyak sekali. Badan lemas karena makanannya bubur, itu pun porsinya sedikit karena keburu mual. Kemudian tidur pun itu pipi sakit kalau kena bantal, karena kan bengkak. Apalagi aku yang operasi di kiri dan kanan, bengkak deh dua-duanya. Gak bisa ngunyah sama sekali.

H+4 pasca operasi, buat aku itu siksaan masuk ke level lebih tinggi. Alhamdulillah mulut mulai bisa mangap 2 jari, udah bisa lihat deretan benang jahitan di gusi kanan kiri. Tapi tenggorokan sakitnya minta ampun, saat menelan apalagi, perihnya sampai ke ujung telinga kanan dan kiri. Makin susah deh makan. Makin sedih karena berat badan udah turun 3 kg.

Tanggal 25 Mei 2016, jadwalnya aku kontrol. Hari itu kata dokter gusi aku udah bagus, cuma sariawan-sariawan yang dikarenakan infeksi pasca operasi itu masih belum pada hilang. Jahitannya akhirnya dibuka satu persatu. Percayalah itu gak sakit, cuma sedikit ngilu aja waktu kamu bisa rasain alat si dokter narik-narik benang jahitan dari gusi kamu. Kemudian keluar darah deh, langsung kumur-kumur, selesai.

Alhamdulillah hari ini 29 Mei 2016, aku mulai makan nasi lagi. Tetap ya nasinya dikasih sayur, biar gampang waktu menelan karena ini tenggorokan masih lumayan sakit. Untuk makanan sampai hari ini aku belum mau makan makanan yang digoreng, aku masih milih makanan yang dikukus atau direbus. Alhamdulillah setidaknya hari ini mulut udah bisa dipakai buat 'nguap', berarti udah mulai bisa ngebuka gede. Sariawan tinggal satu lagi, sakit tenggorokan masih tapi udah gak perih sampai ke telinga. Semoga bisa lekas sembuh, Aamiin.

Buat kalian yang giginya impaksi juga, meskipun gak sakit mendingan dibawa kontrol ke dokter. Berdasarkan pengalamanku, sakitnya memang pas sudah bertahun-tahun dibiarkan, nanti hilang tapi kemudian balik lagi. Katanya kalau impaksi dibiarkan, itu bisa merusak gigi sebelahnya, kemudian membuatnya infeksi yang disertai abses, lebih parah lagi bisa ada kista, terus paling parah bisa ada amputasi rahang gitu. Aku juga tidak begitu paham, tapi yang aku tahu segala sesuatu itu lebih baik ditangani sejak dini. Begitu tahu impaksi, lebih baik langsung ekseskusi jangan dibiarkan seperti apa yang aku lakukan sehingga akar giginya keburu panjang dan dalem. Percayalah rasa sakit beserta siksaan-siksaan pasca operasi jauh lebih baik daripada efek jangka panjang jika impaksinya dibiarkan.  Lagipula efek samping pada setiap individu berbeda, aku merasakan seperti ini karena memang aku susah makan dan tidak mau memaksakan. Selain itu, aku juga tidak disiplin saat mengkonsumsi obat, terutama antibiotik. Aku diberi antibiotik yang harus dimakan setiap jam 8 pagi dan 8 malam. Kadang aku makan jam 9, kadang jam 10. Efeknya infeksi menjalar hingga telinga dan tenggorokan. Sedangkan temanku ada yang hari ke-4 pasca operasi sudah mulai makan nasi, karena mulut sudah bisa dibuka lebar, sariawan hanya sedikit, dan tidak ada sakit tenggorokan. Entah karena temanku itu hanya satu gigi yang diangkat, sehingga cepat sekali sembuhnya. Pokoknya makan obat harus tepat waktu dan obat kumur pun jangan pernah terlewat, ya!

Jika operasi hanya pada satu bagian saja, kalian masih bisa ngunyah di sisi bagian lain. Akan tetapi jika dioperasi di kedua sisi seperti aku, lebih baik makan makanan lunak dulu sampai lepas jahitan, karena ngilu juga kalau nasinya nyangkut-nyangkut didaerah jahitan. Kalau pun harus sedikit mengunyah, biasanya aku mengunyah dengan gigi depan, seperti kelinci.

Beberapa makanan yang aku konsumsi selama sakit pasca odontektomi :

Schotel Mie

Sayur bayam

Sop Ceker dan agar-agar

Sayur tahu bening dan pepes ayam yang dipresto hingga lunak

Pisang keju coklat, pisangnya dikukus tidak digoreng
Sekian berbagi pengalamannya, nanti terlalu panjang bisa sampai bikin novel ini. Mohon maaf jika ada salah-salah informasi di atas, aku hanya menulis berdasar yang aku rasakan dan aku peroleh. Mohon doanya agar bisa lekas pulih, aku sudah rindu dengan bakso, pizza, ramen, ayam krispi, dan makanan enak lainnya. 

Jumat, 09 Oktober 2015

Curhatnya Sarjana yang Jadi Bakulan Kue

Sarjana.. satu kata yang pernah aku perjuangkan amat sangat. Untuk apa? untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tentunya. Lalu? sekarang setelah didapat, apa benar lebih baik? Belum, masih diperjuangkan lagi ~

Aku bukan seorang sarjana yang kemudian berlomba untuk menjadi guru di sekolah negeri atau pun menjadi pegawai di sebuah perusahaan elit. Ya memang awalnya sih begitu, ingin jadi pegawai bank. Pertama kali mencoba, gagal. Gagal karena ditikung orang yang sejak tahapan petama tes tak pernah sama sekali terlihat batang hidungnya, tiba-tiba saja muncul pada tes tahap akhir. Haha.. mengerti maksudku? Aku yang sudah di'salami' dan dikatakan mulai bekerja tanggal 1, nyatanya tak pernah dipanggil lagi untuk taken kontrak. Kan lucu ya? :)

Akhirnya banting stir menjadi seorang pegawai di perusahaan provider kenamaan di Indonesia. Sayangnya hanya sebagai pegawai outsourcing. Ya, menurutku apa yang mau dikejar disana? akan selamanya statusku menjadi pegawai outsourcing. Bekerja mati-matian memberikan yang terbaik pun tak akan menjadikanmu mendapat promosi jabatan atau apapun yang menunjang karirmu disana. Baiklah. Aku memutuskan untuk resign.

Setelah itu aku sempat melamar ke beberapa perusahaan tapi berkali-kali juga gugur di tahap akhir. Greget sekali rasanya, sedikiiiitttt lagi. Lelah? dikatakan lelah ya mungkin lelah. Aku berhenti melamar pekerjaan untuk beberapa saat dan menjadi seorang bakul kue untuk mengisi waktu luang yang amat luang saat itu. Dari seminggu yang hanya satu kue ulang tahun, kemudian jadi 2, 3, ditambah snack box, ini, dan itu. Alhamdulillah ternyata berkembang sedikit demi sedikit. Waahh lumayan ini, jadi hobi yang menghasilkan. Hobi yang tadinya hanya pekerjaan sampinganku, aku putuskan untuk di'seriusi' saja. Suatu pekerjaan apabila kita anggap sampingan maka akan selamanya menjadi sampingan. Sejak itu aku benar-benar berhenti melamar pekerjaan dan mulai menjadi chef di dapurku sendiri, merangkap menjadi marketing, sekaligus kurirnya.

Berjuang dari NOL. Itu yang aku lakukan saat ini. Berjuang dengan modal pas-pasan, hanya mengandalkan tekad yang juga masih turun naik. Satu persatu customer berdatangan sampai akhirnya aku tak sempat menjadi kurir lagi, karena pekerjaan menjadi chefnya tak bisa ditinggal. Yasudah, customer mau tidak mau datang mengambil kuenya sendiri ke rumahku dan ternyata mereka tidak keberatan. Ya daripada menggunakan jasa kurir yang juga belum tentu amanah, belum tentu sampai dengan selamat juga di customer. Mencari aman saja, betul? diambil sendiri.

Tapi kenyataan tak semulus itu. Banyak duka yang harus aku alami dalam profesiku sebagai bakul kue ini. Dari customer yang soleh, baik hati, mengerti, yang kritis, yang tidak percayaan, sampai customer yang maunya selalu diskonan. Ya. Ada customer yang memang paham dengan harga-harga di pasaran tentu tidak akan keberatan membeli kue di bakulanku, karena memang harga kue yang aku bandrol dibawah harga pasaran. Maksudnya di bawah ini untuk yang satu kualitas ya, kualitas PREMIUM.  Iya memang wajar sih jika customer mebanding-bandingkan harga dengan penjual yang lain, aku juga sering membandingkan mana yang lebih worth to buy kalau belanja. Tapi kalau sudah aku hitung, tetap saja hitungan harga jualku lebih mahal dari harga penjual kue di sekitar. Aku bisa apa? Kan resep yang kita pakai juga berbeda. Semua penjual punya resep sendiri-sendiri walaupun produk yang dijual sama. Kembali lagi, itu hak mereka memutuskan akan membeli atau tidak.

Ada pula customer yang baru mau beli pertama kali sudah minta diskon, ya mendinglah kalau beli banyak. Ini udahlah beli satu, minta diskon pula. OMG!
Okay. Untuk memperlancar gerbang usahaku, bolehlah mereka dapat diskon beberapa rupiah dari harga aslinya. Nah loh tapi dipikir-pikir mana laba untukku? sedikit sekali, tak sebanding dengan effort yang aku keluarkan. Belum lagi jika ada calon customer yang dapat info dari si customer yang dapet diskon itu. Diapun jadi maunya harga diskonan itu. Semua customer harga diskonan? Mati gue!! Akhirnya ada beberapa calon customer yang gak jadi order karena harganya ga dikasih diskon. Nah kan, hasilnya seorang diberi diskon, yang lain juga minta diskon. :(

Ada juga customer yang sudah dikasih diskon, eh banyak maunya pula. Misalkan, harga sacher cake dengan topping fresh fruit itu aku bandrol Rp. 230.000 untuk diameter 20 cm. Dia menawar agar harga segitu dapat yg 22 cm. Baiklah dengan berat hati, berharap kedepannya dia jadi customer tetapku ya okelah tak apa. Deal dengan harga tersebut untuk diameter cake 22 cm. beberapa hari kemudian dia menghubungi lagi, minta pinggiran cakenya tak ingin polos, ingin dipenuhi dengan kacang almond.
Aku bilang, "kalau begitu tambah harga ya Mba?".
Dia jawab, "Lah kan kemarin sudah deal 230rb".
"iya, tapi kan itu hanya dengan topping fresh fruitnya saja. 3 macam buah."
"Ya ketimbang tambah almond aja biar lucu pinggirannya gak polos"
"Mba almondnya saja sekarang perkilonya sudah lebih dari 120ribu rupiah. Saya tidak ambil keuntungan banyak kok mbak dengan harga segitu. Maaf saja jika memang ingin ditambah almond dengan harga tetap saya tidak bisa buatkan mba." Saking keselnya aku saat itu sama si mbaknya :(
"yasudah nanti dipikir-pikir lagi!" kata mbaknya, ketus.
akhirnya aku tidak membuatkan kue itu, lah (maaf) pikirannya ditaro dimana itu si mbak. Ga punya perhitungan atau gak punya perasaan? hiks. Tak apa, si mbak itu bukan rezeki ku, masih banyak pintu rezeki yang lain. Daripada makan hati ya ngga?

Dan lagi, ada juga customer yang order dari jauh-jauh hari. Tanya ini itu, bilang inginnya begini begitu. Sudah sepakat dengan harganya. Eh ternyata tak pernah ada kabar lagi sampai harinya tiba. Dia tidak memikirkan bahwa hari itu aku sudah meluangkan waktu untuknya, menolak order untuk hari itu karena sudah masuk order dari dia itu.

Banyak aku jumpai customer seperti itu, sampai ada yang bilang "Hah? Cupcake gitu harganya segitu?"
Lah dia aku jelaskan bahan-bahannya saja tidak mengerti. Apa itu butter, apa ini, itu, dan lain sebagainya. Ingin nangis guling-guling rasanya :'(

Kemudian banyak juga yang minta harga temen. Kalo lagi sabar-sabarnya ya kadang aku kasih diskon untuk temen deket, atau aku bilang "itu udah murah ko dibanding yang lain, sebanding juga sama kualitasnya". Tapi kalo sudah jengkel aku jawab saja, "Ntar ya aku kasih harga temen, kalo aku udah temenan sama cici penjual bahan kuenya yaa.. siapa tau dia juga ngasih aku harga temen!". (seharusnya aku tidak boleh begitu sih hihi)

Barangkali yang terlintas oleh mereka hanya perkara membeli KUE. Mereka tak sadar dibalik sebuah kue itu ada waktu yang dikorbankan, ada pikiran, usaha, dan ilmu yang tak didapat dengan instan. Janganlah sampai kesana, untuk gas, listrik, air, sabun, dan kemasan pun barangkali mereka tak memperhitungkan. Saat banyak mendapat customer seperti itulah saat-saat dimana rasanya aku ingin menangis, ingin menyerah dan kembali mencari status 'pegawai'. Tapi jika begitu, berarti aku kalah dengan mereka, aku tak bisa membuktikan bahwa aku bisa, bahwa aku layak, dan kue ku memang punya kualitas. Bukan kue harga 'lower' yang seperti spons dan kemudian harus didorong air untuk bisa lewati tenggorokan. BUKAN, sungguh BUKAN. Sebisa mungkin kue yang ku buat diminimalisir penggunaan bahan kimianya, menghindari bahan-bahan yang tidak halal, dan menggunakan bahan-bahan kualitas premium agar enak rasanya, cantik juga penampilannya.

Saat sudah down dengan para customer semacam yang aku ceritakan tadi itu, tahu apa yang membuatku terhibur kembali? mau berjuang kembali?
Mereka, para customer yang mengerti, yang tak banyak minta ini itu. Yang justru berkata "Ah nggak akan banyak minta ini itu, gak akan minta diskon biar hasil kuenya juga maksimal. Silahkan saja sepantasnya, saya percaya sama mbak."
Aaaaahhh rasanya ingin memeluk customer begini satu persatu, terimakasih banyaaaakkkk. Huhu terharu. Semoga Allah memudahkan rezeki kalian customer kesayanganku.

Andai semua customer bisa mengerti seperti itu, mungkin indah ya rasanya. Akan sangat menyenangkan berprofesi sebagai seorang bakul kue. Kenyataannya ada banyak karakteristik customer yang kalau aku ceritakan satu-satu bisa berratus-ratus halaman sepertinya. Hidup tak pernah terlepas dari halangan dan rintangan, siapa yang bisa menaklukannya dialah yang akan menang. Aku harus menang, aku harus sampai di puncak. Mewujudkan keinginanku untuk punya toko kue besar yang setiap harinya orang-orang datang membeli dan sangat menggemari produk-produk di tokoku tanpa rewel minta diskon. Hihihiii..

Memang saat ini aku bukan siapa-siapa. Aku tak seperti sebayaku yang terlihat keren dengan seragam perusahaannya, tidak terlihat sibuk dengan kegiatan ini dan itu, tidak punya tanggal yang ditunggu-tunggu setiap bulannya. Tapi jika tak begini, kapan aku bisa mewujudkan inginku itu? merangkak saja, tak apa, tak usah malu, walaupun penghasilan tiap bulan tak menentu, kadang sedikit, kadang justru bisa melebihi mereka. Disyukuri saja. Hasil tidak pernah mengkhianati prosesnya kok :)

Kalau sekarang orang di sekitarku banyak yang bertanya, "di rumah aja nih? Gak kerja? Gak lamar-lamar? Gak laku kerja?". Aku beri senyum sajalah, walau sebenarnya kata-kata seperti itu sungguh menyayat hati. Tapi aku pasti sampai pada mimpiku, aku pasti bisa sukses di jalanku, kalian hanya perlu menunggu. Okay?

Hidup bakul kue!!! :D


Jumat, 24 Oktober 2014

Today Wasn't Fairy Tale

Terlalu sadar aku saat ini, bahwa segala sesuatu yang ku yakini dari dongeng yang pernah aku dapati sejak kecil tak pernah sama dengan kehidupan nyata. Ya, sama sekali.

Dongeng itu terlalu sederhana, mudah diterka, dan akrab dengan kalimat "happy ending". Tidak begitu yang aku temukan dalam kehidupan sebenarnya, hidup itu terlalu palsu, sulit diterka, dan lebih akrab dengan kalimat "semua akan indah pada waktu yang tepat" tanpa kita tahu kapan, bagaimana, bahkan dengan siapa. Iya, semua rahasia Allah SWT yang Maha Mengetahui.

Teringat pada satu quote dari penyanyi kesukaanku, Taylor Swift.
 "When I was a little girl, I used to read fairy tales. In fairy tales you meet prince charming and he's everything you ever wanted. In Fairy tales the bad guy is very easy to spot. The bad guy is always wearing a black cape so you always know who he is. Then you grow up and you realize that prince charming is not as easy to find as you thought. You realize that bad guy is not wearing a black cape and he's not easy to spot; he's really funny, and makes you laugh, and he has perfect hair."

Bukankah itu benar?

Sampai saat ini aku masih belum bisa membedakan. Apakah untuk tahu harus berani mencoba terlebih dahulu? Ada cara lain? Adakah garansi bahwa aku tak akan terluka jika kelak yang terlihat baik saat ini tidak akan menyakiti?

Rupanya ketakutan yang menggelayut di pelupuk mataku malah membuatku makin buta. Jika sudah begitu, lalu apa guna firasat? mengapa firasat yang ku punya masih saja salah? Bukan karena aku memilih seseorang yang tak baik, malah mungkin aku memilih yang terlampau baik. Tapi jika ia tak pernah se-yakin yang aku yakini lantas aku bisa apa?

Jumat, 07 Februari 2014

Aku Melihat Kamu

Malam ini, hari yang sama, bulan yang sama, bilangan tahun yang berbeda. Aku menyusuri (lagi) jalan yang sama persis; tanah yang masih basah, langit yang gelap, dingin yang menusuk, serta gemerlapnya lampu jalanan. Pada tempat-tempat yang aku lewati di sepanjang jalan, aku melihat kamu.

- 3 Februari 2014 -

Kamis, 23 Januari 2014

Meraih Gelar

Meraih gelar. Dua kata yang mewakili perjuangan saya menulis skripsi. Mungkin bagi sebagian orang menulis skripsi adalah hal yang biasa, tapi tidak demikian dengan saya. Mungkin saja terdengar begitu berlebihan di telinga kalian, tapi bagi saya ini merupakan "perjuangan".

Perjuangan saya dimulai sejak seminar judul bulan Juli 2013 kemarin. Saya yang pada saat itu masih ongkang-ongkang kaki dan lebih fokus pada produksi cookies lebaran yang pesanannya membludak. Skripsi saya baru seutuhnya mulai saya perjuangkan pada akhir agustus. Saya mulai bimbingan secara intensif dengan Pembimbing 2, hingga pada pertengahan september saya mampu menyelesaikan sampai bab 3 dan mendapat izin untuk selanjutnya dilanjutkan pada Pembimbing 1.

Hari itu saya menyimpan draft saya di atas meja beliau (Pembimbing 1), sesuai dengan perintahnya. Keesokan hari saya datang, draft saya masih rapi di atas meja beliau. Sampai sore saya tunggu dengan harapan beliau punya waktu untuk membacanya, tapi yang saya dapati tak sesuai harapan. Begitu dan begitu setiap harinya hingga menginjak minggu ke-3 draft saya di atas meja beliau. Beliau adalah seseorang yang sangat saya segani, bahkan untuk sekedar menanyakan "Ibu, bagaimana dengan skripsi saya?" pun saya tidak berani. Saya sadar beliau dosen selaku sekjur yang memiliki kesibukan ekstra, dan saya pribadi merasa egois jika saya memohon bimbingan disaat kesibukannya segudang. Merasa gelisah saat terdengar di telinga, kabar bahwa minggu depan dibuka seminar. Semakin tak karuan dan merasa berkecil hati, akhirnya saya berusaha untuk tidak berharap banyak.

Dua hari kemudian saya kembali datang, dan betapa senangnya beliau telah membaca draft saya. Saya menghadap kepada beliau ditemani oleh Pembimbing 2 dan berdiskusi bersama. Finally, beliau mengharuskan saya merombak kembali mulai dari Bab 1, karena tujuannya belum jelas, dan masalahnya belum terbaca dimana dan bagaimana. Dengan menarik nafas panjang, saya mengatakan "baiklah, Bu."

Beliau mengarahkan saya dengan baik, memberi masukan dan pengertian dengan sangat sabar. Bahkan saat saya ingin menangis karena isi materi dan butir angket saya yang selalu 'kurang tepat' sedangkan kondisinya sulit sekali menemui beliau untuk bimbingan, beliau meminta maaf kepada saya atas waktunya yang terbatas dan atas cara penyampaiannya yang mungkin membuat saya sulit mencerna maksud keinginan beliau. Bagaimana saya tidak ingin menitikkan air mata saat beliau berkata seperti itu, malah ibu (pembimbing) saya yang meminta maaf karena kesalahan saya yang tak kunjung benar. Aaahh maluuu :"

Akhirnya, pada tanggal 1 November saya mengikuti seminar 1. Alhamdulillah, perjuangan saya dalam mengejar gelar akhirnya maju satu langkah. Pada pelaksanaan seminar 1 itu, saya hanya ditemani oleh Ibu Pembimbing 2 karena Ibu Pembimbing 1 sedang sibuk mengurus ISO.

Setelah selesai seminar 1, 'drama' bimbingan saya dengan Pembimbing 1 terjadi lagi. Menunggu berhari-hari bahkan berminggu pun menjadi keharusan bagi saya. Sementara Pembimbing 2 saya selalu mensupport dan menanyakan kabar skripsi saya, apakah sudah bimbingan, apakah sudah pembimbing 1 baca, apakah sudah boleh ke lapangan atau belum. Mungkin beliau iba terhadap saya, tapi beliau tak dapat berbuat apa-apa, karena beliau bilang keputusan sepenuhnya berada pada Pembimbing 1. Sampai beberapa kali bolak-balik bimbingan, mengganggu waktu ibu pembimbing 1, akhirnya ada tulisan ini di cover skripsi saya:


Bergegas, tak buang waktu lagi saya menyempurnakan dan memperbanyak angket saya untuk disebar pada 59 orang Siswa Kelas XI Jasa Boga di SMK Negeri 2 Baleendah. :D
Berniat ngebut, satu minggu mengolah data dan konsultasi dengan Pembimbing 2, akhirnya kembali menemui ibu Pembimbing 1. Hal yang sama harus saya alami, 2 minggu menunggu beliau membaca draft saya. Tapi sekalinya beliau ada waktu, beliau lah yang mencari saya dan menghampiri saya di kantin. Pernah satu waktu beliau sudah membaca draft yang sudah saya simpan lama di atas mejanya, tapi saat beliau mencari saya, saya tidak ada. Hingga dua hari berikutnya, draft yang telah beliau baca tersebut masih di mejanya. Beliau mengirimi saya pesan singkat menanyakan bagaimana kabar saya, dan menawari saya mengikuti seminar 2 yang akan dibuka minggu depan. Ya mungkin itung-itung upayanya membangkitkan semangat saya yang sudah "hopeless". Hehe.. Baik ya beliau? :')

Daaaannn, yeeyyy! Saya diperbolehkan mengikuti seminar 2 pada 24 Desember. :D

Draft Skripsi Saya untuk Mengikuti Seminar 2
Tapi kurang lengkap rasanya, bergantian kemudian Pembimbing 2 saya yang tidak hadir. Pada hari saya melaksanakan seminar 2 beliau berada di RS, melakukan operasi pengangkatan kanker payudaranya. Sedih :'(

Dua minggu Ibu Pembimbing 2 saya dalam masa pemulihan dan Ibu Pembimbing 1 disibukkan dengan pekerjaan yang jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Uring-uringan, sedih, dan kecewa itu ada, tapi dipendam dalam-dalam. Tidak egois, mengerti dan menerima keadaan orang lain adalah keharusan. Sampai kemudian ibu Pembimbing 2 kembali ke kampus, saya kembali mendapat masukan dan arahan dari beliau. Akhirnya Ibu Pembimbing 1 memperbolehkan saya mengikuti ujian sidang dengan alasan "Ibu percaya, kamu kan sudah bimbingan dengan Pembimbing 2, silahkan daftar untuk ujian sidang!". Sementara dengan Pembimbing 2 pun hanya bisa bimbingan 2 kali saja. Bagaimana nasib saya mempertanggung jawabkan skripsi ini di sidang nanti? :'(

 __________________________________________________________________________________
Singkat cerita, saya pun mengikuti ujian sidang pada Tanggal 22 Januari 2014. Hari itu kedua Pembimbing saya menjadi Penguji yang paling saya takuti jika dibandingkan dengan dua dosen penguji lainnya yang notabene adalah dosen partisipan pada seminar 1 dan seminar 2. Dengan hati yang tidak berhenti berdoa, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Saya mampu menjawab pertanyaan bertubi dari 3 penguji lainnya dengan baik, tetapi tidak dengan pertanyaan dari Ibu Pembimbing 1 ini. Jantung saya berdebar kencang saat pertama menatap wajah beliau. Isi kepala saya berantakan dan semua hafalan saya berlarian entah kemana. Saya merasakan sebingung-bingungnya bingung, speechless, dan gugup luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan dari beliau tak dapat saya jawab dengan baik. Bahkan untuk pengertian "pembelajaran" pun saya mendadak lupa. Saya merasa seperti 'remah nastar' di hadapan beliau. Mati kutu. Jawaban yang saya beri adalah jawaban-jawaban bodoh, tidak tepat, terlalu bertele, menjawab dengan terbata-bata, dan mata yang berkaca-kaca hendak menangis. Pada akhir sesi, saya meminta maaf kepada beliau dan berterus terang atas apa yang saya rasakan saat di depan beliau. Rasa gugup saya, rasa takut saya, semua saya ceritakan. Lucunya beliau malah meminta maaf dan menanyakan kepada saya bagaimana caranya agar saya tidak takut lagi kepada beliau. Itu merupakan satu pertanyaan yang tidak dapat saya jawab, karena beliau orang yang sangat baik dan profesional, tak ada yang salah dari diri beliau :')

Setelah selesai ujian sidang, teman-teman HIMAWARI berfoto seraya mengusir tegangnya menanti penutupan dan pembacaan yudisium. Himawari adalah satu kata yang kami gunakan untuk menamai kebersamaan kami. Kami berdelapan yang pada awalnya ada yang melangkah lebih dulu dan ada yang tertinggal, yang pada seminar 1 dan seminar 2 tak pernah lengkap berdelapan, tak dinyana akhirnya dapat mengikuti sidang bersama-sama. Itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya, melihat teman-teman saya melewati "hari tak terlupakan" ini bersama-sama. Sementara penutupan dimulai, saya hanya bisa menunduk lemas dijajaran depan, malu dan merasa tidak yakin dapat lulus hari itu karena alasan tadi. 

Tiba saat pembacaan yudisium oleh Bapak Dekan FPTK UPI, terdengar jelas di telinga saya "Cynthia Dewi Ryanditra dinyatakan lulus dengan predikat Cum Laude". Kemudian diketokkannya palu ke atas meja sebagai tanda "syah" nya. Ada rasa syukur luar biasa di dalam dada, ada rasa terimakasih yang tak terhingga kepada ibu-ibu pembimbing, penguji, serta dosen-dosen lainnya. Ada rasa tak percaya yang begitu besar, dan seketika tangis pecah saat para dosen dan petinggi menyalami kami, memberikan selamat atas gelar S.Pd yang resmi kami sandang. Ada peluk hangat mereka kepada kami yang jauh lebih bermakna daripada sejuta kata yang dapat terlontar.

Alhamdulillah, pada tanggal 22 Januari 2014 tersebut proses meraih gelar tercapai, nama saya berubah menjadi Cynthia Dewi Ryanditra, S.Pd. hihiihi :D

sedikit lampiran:

Ada rasa tidak percaya saat saya membuat ini, "benarkah saya sudah akan wisuda?" #abaikanfotonya
Photo Session setelah seminar 2, yang gak pake baju pink itu Caca dan Novi, seminggu kemudian giliran mereka menyusul seminar 2
itu yang pakai baju Owl namanya Tiara, nyusul juga seminggu kemudian :D
Kelar Ujian sidang, sebelum penutupan foto2 dulu di ruang sidang padahal mukaku sembab habis nangis.
Ini kami "Himawari" di helipad FPTK setelah resmi menyandang S.Pd *abaikanorangberbajuhijauitu*

Foto bersama dosen-dosen tercinta, di ruang sidang :D
Terimakasih Ibu Dr. Ade Juwaedah, M.Pd selaku Dosen Pembimbing 1 yang baik sekali dan dengan sabarnya menghadapi saya, Dra. Elly Lasmanawati, M.Si selaku Dosen Pembimbing 2 atas perhatian dan supportnya yang tiada henti kepada saya, Dra. Sudewi Yogha, M.Si dan Cica Yulia, S.Pd, M.Si selaku Dosen Penguji yang teramat baik dan semua dosen-dosen saya yang hebat. Terimakasih banyak untuk segalanya, untuk wejangannya, untuk ilmunya. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat. Aamiin. :')

Mama, Papa, I love youuu.. terimakasih untuk semuanya yang tak dapat saya uraikan satu persatu. Terutama atas doa, materi dan kasih sayang yang berlimpah kepada saya. Terimakasih untuk setiap doa yang sampai di telinga saya, Mama. Terimakasih sudah rela gotong-gotong printer sedemikian seringnya, Papa. Hehee :')

Untuk teman-teman Himawari tersayang, terimakasih telah menjadi teman yang baik selama saya mengenyam bangku kuliah disini. Terutama Uni yang sejak hari pertama perkuliahan telah bersedia menjadi teman saya, menerima egois dan manjanya saya, "My practicum soulmate" yang hampir setiap kelompok kita selalu barengan, terimakasih. Untuk semua, terimakasih atas supportnya, atas menyebalkannya, atas menjengkelkannya, atas menyenangkannya, segalanyaaa. Sadar tak banyak yang dapat saya lakukan untuk kalian tapi semoga sanggup membuat kalian tetap ingat karena saya pun tidak berniat sedikit pun untuk melupakan kalian dan jasa-jasa kalian :')

Untuk kamu, "Hai kamu, terimakasih banyak!". Kamu telah menjadi semangat tersendiri bagi saya untuk segera meraih gelar. Kamu menjadi alasan tersendiri bagi saya untuk tetap menjadi seseorang yang tegap berdiri, seseorang yang kuat, seseorang yang tak pernah lupa untuk bersyukur dan belajar menerima. Terimakasih banyak.

Rabu, 08 Januari 2014

Hei, Tuan Berbaju Hitam

Hey Tuan berbaju hitam,
apa yang sedang ada dalam lamunanmu? Mukamu tampak gusar, jemarimu tak bisa diam dan alismu terangkat mengernyitkan guratan kening.

Hey Tuan berbaju hitam,
apa yang kamu lihat? matamu memancarkan pendar teduh kehangatan, senyummu mengutarakan banyak hal yang tak terungkap, lambaian tanganmu merefleksikan persahabatan.

Hey Tuan berbaju hitam,
apa yang merasuki pikiranmu? Apakah hari ini harimu baik, apakah memang ternyata kamu menyukai baju hitam ataukah benar ada yang sedang dalam angan.

Hey Tuan berbaju hitam,
mengagumimu dari jauh sudah cukup bagiku, sudah cukup membuat hariku tampak tak sekelam bajumu yang berwarna hitam,
menikmati sapaanmu kepada orang yang lewat dibalik sesapan kopiku yang sudah mulai habis.

Hey Tuan berbaju hitam,
melihatmu dari jarak tak jauh tapi tak cukup dekat cukup menutupi kepuasanku, walau orang lalu lalang, walau kamu sering hilang dari pandang.

Hey Tuan berbaju hitam,
aku pamit dulu,
kopiku sudah mulai habis,
kekasihku sudah datang.

by: Falla Adinda

Jumat, 27 September 2013

Bersama Hujan

Ada resonansi yang dihadirkan hujan dalam kepalaku. Lewat rintik anggun, otak ku menyeret segala kenangan yang terjadi di bawahnya. Ada tangis, tawa kecil, serta rindu yang hadir bersamanya. Ada kenangan yang menggeliat ke permukaan saat aku harus berteduh pada satu titik dimana kenangan tersebut pernah tercipta. Ada reka ulang yang jelas dan tanpa jeda bermain dalam otakku. Kemudian diikuti senyum yang sedikit mengembang bersama aliran air yang ternyata bukan hujan; melainkan air yang dikirim hatiku melalui sudut mataku.

Entah bagaimana sistem dalam kepalaku bergerak mengalunkan memoribianya sore itu. Yang ku tahu isi kepalaku sedang menghujam jantungku berkali-kali, menghantamnya dengan kepalan kenangan. Pada hujan dan wangi khasnya, aku mencium keberadaan kenangan. Pada setiap sela pada rintiknya, ada doa yang ku lambungkan tinggi-tinggi ke udara, yang pecah diterjang deras hujan sebelum sempat semesta mengamini. Wahai kamu yang mencipta kenangan ini, bolehkah aku menyampaikan apa yang disampaikan hujan padaku? Aku melihat tanya pada setiap rintiknya, merasakan teguran pada basah yang mengenai pakaian dan ragaku. Hujan sedang menyaksikan, ada yang tidak biasa dalam aku dan (atau) kamu.

Senin, 16 September 2013

Galau skripsi itu biasa bukan?

Rasanya "Hopeless". Dua minggu lebih tidak ada progress dan kemajuan berarti bagi skripsi saya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari sejak sebulan yang lalu saya bimbingan dengan pembimbing 2 tapi ternyata tetap tidak bisa mengejar target yang ingin dicapai. Hari ini bimbingan, esoknya saya kembali menghadap dengan hasil revisi, dan begitu seterusnya. Hal berbeda terjadi saat sampai di pembimbing 1, saya melambat. Banyak tugas yang mesti beliau kerjakan, banyak keperluan yang mesti beliau selesaikan, sehingga berminggu-minggu desain skripsi saya tetap tertata rapi dan bersih di atas meja beliau. Saya tak berani cerewet mempertanyakan bagaimana skripsi saya itu, karena terus terang saya sangat segan kepada beliau. Tapi saya sadar, jika terus begitu akan bagaimana nasib skripsi saya ini. Saya mencoba mengumpulkan keberanian untuk meminta bimbingan tatap muka kepada beliau, saya merajuk dengan sejuta kalimat "Allahuma yassir wa la tu'assir" dalam hati saya.

Alhamdulillah akhirnya saya dapat bimbingan bertatap muka dengan beliau. Tapi semua pertanyaan yang beliau ajukan berasa menyudutkan saya dan menghentak semangat yang tadinya menggebu. Kemungkinan skripsi saya harus dirombak betul, mungkin sebagian besar atau mungkin dari nol. Saya rasa kami tak memiliki pemahaman yang sama atas maksud skripsi saya. Maksud saya begini, tapi maksud beliau begitu, dan terus terang saya tidak dapat menjangkau pemikiran beliau. Saya tidak pandai dalam memahami penjelasan beliau. Dan sampai di titik ini, saya merasakan kontra yang terjadi antara pemahaman beliau dan pembimbing 2. Saya semakin diam, saya tak tahu harus melangkah kearah mana. Mungkin terkesan lebay untuk merasa "down" karena ini, tapi justru begini adanya yang saya rasakan.

Hari ini, 16 September 2013. Sebelas hari menuju Seminar 1, tapi saya merasa bahwa selama ini saya hanya diam, tak melakukan apa-apa. Ada yang menitik dari sudut mata ketika saya sadar kemungkinannya saya tidak dapat memenuhi permintaan papa untuk wisuda di akhir tahun ini. Saya harus mengganti bayangan gurat senyum papa saat saya bisa melakukannya dengan baik, dengan gurat senyum yang (mungkin) sedikit berbeda. Tak apa kan, Pa? :')

Jumat, 23 Agustus 2013

Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci angin

"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang.

Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana."
- Tere Liye

Sabtu, 20 Juli 2013

Tugas Akhir yang Alhamdulillah :')

Nilai Tugas Akhir sudah keluar :D
Woho..! lega rasanya.. apalagi ternyata Tugas Akhir yang saya kerjakan selama 5 bulan itu membuahkan hasil yang teramat memuaskan. Alhamdulillah, bersyukur jerih payah saya itu dihargai dengan angka IP 3,8.
Saya pikir ini sebanding dengan usaha dan kerja keras saya membuat macaron :D
Ya!
"Macaron dengan Variasi Filling dan Topping sebagai Dessert Pesta Ulang Tahun Remaja"
Begitu judul yang saya angkat berdasarkan saran serta arahan dari dosen pembimbing saya Hj. Rita Patriasih, S.Pd, M.Si.
Beliau dospem yang baik sekali, beliau kooperatif, beliau sering kali mengingatkan saya untuk bimbingan, memberikan masukan-masukan yang brilliant, mengevaluasi dengan baik setiap kesalahan yang saya buat. Menyenangkan :')
Saya termasuk mahasiswi dengan jumlah bimbingan terbanyak sepanjang masa sepertinya. hahaaa..
Tapi berkatnya, Tugas Akhir saya ini bisa dikatakan menjadi yang terbaik di antara rekan saya sekalian. Hebat 'kan kontribusi beliau? terimakasiiihhhhhhh :D
Terimakasih bersedia menjadi Dosen Pembimbing saya, terimakasih telah mengembangkan potensi saya, dan terimakasih untuk selalu meyakinkan bahwa saya mampu, ketika saya hampir menyerah karena tidak bisa membuat macaron yang baik dan berkualitas..
Ujicoba berpuluh-puluh kali ternyata bukan hal buruk, malah menjadi bumbu pahit manisnya Tugas Akhir saya.. hahahaa.. karena hasilnya manis, sangat manisss :')
Semoga terulang kembali kesuksesan ini buat skripsi nanti yaaaa.. aamiin.

Tugas Akhir-ku :)

Jumat, 07 Juni 2013

Aku Rindu ~

Ada tangis yang pecah pada sepertiga malam terakhirku tadi malam. Rindu yang mengguncah dan memoribia yang menghujam sebabnya. Ada rasa bersalah menyeruak saat kedua tangan menengadah pada-Nya. Aku merindukannya. Aku ingin memeluknya, seperti dulu.

Beliau, seorang wanita yang aku kagumi sosoknya. Wanita Hebat. Mandiri. Bijaksana. Berani. Beliau wanita yang mampu berdiri sendiri ketika sosok kepala keluarga yang seharusnya melindungi berada jauh disana, mengemban tugas negara. Beliau mengayomi anak-anaknya dengan baik, penuh kasih sayang, dan penuh bela. Beliau wanita yang mampu menjadi inspirasi wanita lainnya. Membuka kursus menjahit, kursus membuat kue, dan menjadi kader yang kompeten. Hidupnya tak pernah berleha, beliau hebat menjadi wanita seutuhnya.

Beliau orang pertama yang mengajariku membuat gaun-gaun barbie yang cantik.
Beliau orang yang selalu menceritakan dongeng padaku sedari aku kecil hingga beranjak remaja. Hingga aku merasa dongeng-dongengnya tidak lagi lucu. Dongeng yang beliau ulang berkali-kali. Dongeng yang sudah ku ketahui endingnya.
Beliau orang yang mengajariku membuat kue-kue untuk lebaran sejak aku duduk di bangku SD. Tak pernah beliau memarahiku, beliau hanya tersenyum ketika melihat bentuk yang ku hasilkan tidak bagus. Beliau tetap melatihku dengan sabar.
Beliau orang yang membuatkanku mie rebus yang paling enak rasanya. Menghentikan tangisku seketika saat malam itu ditinggal mama agar aku menemani beliau malam itu.
Beliau yang selagi ku kecil selalu memberiku upah jika aku memijat kaki beliau. Meskipun pijatanku sama sekali tak membuatnya mendingan, mungkin.

Hingga aku beranjak dewasa. Aku tahu begitu bangganya ia padaku. Ia menceritakan aku yang "hebat" dimatanya pada orang-orang. Lantas itu membuatku malu, karena aku tak sehebat yang ia ceritakan.
Aku ingat. Saat ia memaksa mama untuk mengunjungiku di posko ketika aku sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun lalu, di Karangpawitan, Garut tepatnya. Ia datang mengunjungiku meski dengan fisik yang tak lagi bugar. Ia tak dapat berjalan dengan baik, karena kakinya sudah sulit menopangnya berdiri. Raut wajahnya menggambarkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan hangat, beliau berbagi cerita bersama teman-temanku disana.
Aku rindu beliau yang selalu meminta fotoku untuk beliau pajang di kamarnya, namun tak juga aku penuhi. Hingga akhirnya mama memberikan fotoku bersama teman-teman KKN ku yang kemudian beliau pajang rapi di atas lemari beliau.

Beliau yang selalu mendoakan kesuksesanku, mendoakan ku supaya mendapat seorang pendamping yang shaleh, meninggalkanku sore itu. Padahal belum sempat aku mencium tangan beliau. Ada banyak cerita yang belum aku bagi dengan beliau.

Ya Allah, mengapa aku harus mengikuti rasa malasku untuk keluar rumah? Mengapa aku tidak mengunjunginya padahal aku tak beraktivitas beberapa hari itu? Mengapa orang lain yang ada disana saat itu, bukan aku? Sungguh aku menyesal.

"Bukankah Nenek ingin melihat teteh sukses? Tidakkah Nenek ingin menyaksikan teteh memakai toga dengan predikat 'cumlaude' nanti? Tidakkah Nenek ingin melihat teteh mendapatkan seorang pendamping yang shaleh seperti yang Nenek harapkan?
Teteh belum melakukannya, Nek. Teteh belum mewujudkannya, sama sekali.
Teteh masih menjadi anak yang manja dan menyusahkan orang tua. Teteh masih kesulitan memulai skripsi. Teteh masih belum bertemu dengan seseorang seperti yang Nenek harapkan untuk menjadi pendamping teteh kelak.
Teteh mohon maaf, Nek. Ternyata Allah begitu menyayangimu. Akan teteh tunjukan nanti. Teteh akan buat Nenek tersenyum dari surga sana. Teteh sayang Nenek. Teteh ingin menjadi wanita hebat seperti Nenek. Biar sekarang teteh yang jaga mama. Nenek beristirahatlah disana, dalam damai."
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..



~ I LOVE YOU, FOR ALWAYS ~

Senin, 20 Mei 2013

UNTITLED



Perkenalkan, namanya Restu. Kebiasaannya menghisap batang rokok dan dengan sengaja meniupkan asapnya ke wajahku. Ia tak pernah kapok meskipun kulit perutnya akan aku cubit setelah ia berbuat demikian. Ya, beginilah kami. Justru ini yang sangat aku rindukan, bercanda dan tertawa bersama adalah hal yang tak pernah kami lewatkan ketika berjumpa. Empat hari ini menebus rasa rindu karena tidak bertemu selama lima bulan lamanya. Tapi penutup perjumpaan ini terasa tak menyenangkan. Ada yang berbeda padanya, ia lebih banyak diam dari biasanya. Ketika leluconku tak membuahkan tawa lepas dari wajahnya, dan tak ada asap rokok mengepul di wajahku. Ah, mungkin dia sedang ada masalah, pikirku.
Di tengah orang-orang yang sibuk hilir mudik kesana kemari, kami duduk di sebuah bangku tepat pada sudut ruangan yang luas dan sesak itu. Terdengar suara laju kereta yang datang dan pergi, namun kereta ku belum juga tiba. Akhirnya kami hanya saling diam dan sesekali terlihat ia mengecek ponselnya.
“Aku ragu” katanya, memulai percakapan.
“Ragu? Kamu ingin menyerah?” tanyaku
Dia hanya diam sambil menyalakan batang rokok selanjutnya.
“Apa harus menyerah? Kalau sayang, harusnya kamu mau berjuang dong,” lanjutku.
“Mungkin disana banyak yang lebih baik dariku,” ucap restu sambil melihat ke arahku.
“Tapi hati itu memilih dan menyamankan diri kita pada pilihannya. Dan jika sudah begitu, tinggal kita memelihara dan setia saja.”
“Praktiknya tidak semudah itu,” tangkasnya.
“Memang, tapi itu bukan hal yang mustahil untuk dilakukan! Ayolah..”
“Sulit dan mungkin mustahil, buatku.”
Aku hanya diam dan tak bisa berkata apa-apa. Terkadang ia memang begitu menyebalkan dan keras kepala. Aku mengenalnya sejak empat tahun lalu, dan sejak itu aku sudah mulai mencintainya. Semakin jauh jarak, rindu malah bertumpuk dan perasaanku pun kian terlalu.
 “Menurutmu? Apa alasan yang paling mendasar ketika aku ragu akan hubungan ini?”
Kali ini aku menatapnya yang kemudian malah sibuk dengan ponselnya. “Jarak?” tanyaku.
Dia mengangkat wajahnya, tegak lurus menatap ke depan kemudian tersenyum kecil.
Senyumnya jelas menyiratkan jawaban. Aku pun menarik nafas panjang kemudian sesekali melihat jarum jam yang terus melaju seraya memastikan kereta ku tiba tepat waktu. Aku ingin meyakinkan keputusan yang ia ambil dari segala beban pikiran yang terlihat berkecambuk dalam kepalanya.
“Semua karena demi masa depan dan cita-cita kan? Bertahanlah. Tiga tahun lagi, bukan neraka jika mampu dinikmati dan tidak dijadikan beban. Biarkan semuanya mengalir dan apa adanya. Toh kalau jodoh, tak perlu mati-matian pun takkan ada yang memisahkan. Kamu masih sayang ‘kan? Tolong pikirkan baik-baik,” pintaku dengan suara lirih.
“Ya aku sayang, masih.” Ia meyakinkanku dengan kedua alis yang terangkat.
"Lalu?"
"Kamu tahu bagaimana rasanya setiap kali rindu? hanya suara dan gambar yang bisa aku lihat? ku pikir aku ingin lebih dari itu!" tegasnya.
"Tapi semua rindu akan terbayar ketika bertemu seperti sekarang ini 'kan?"
"Jika waktunya singkat, mungkin tidak." katanya sejurus menarik lenganku.
Ia menggenggam tanganku sambil tangan lainnya membawakan tasku yang beratnya minta ampun. Kami berhenti pada sebuah peron yang dipenuhi mereka yang sedang menanti kereta datang. Ia menjinjit-jinjitkan kakinya, dengan dada membusung dan bola mata yang lincah kesana-kemari. Ia menemukannya.
“Sudah tiba?” tanyaku
“Tunggu disini!” katanya, memerintah.
Terlihat ia berjalan menghampiri seorang gadis tinggi semampai mengenakan celana jeans, kemeja pas badan dengan ikat pinggang kecil melingkar di pinggulnya, dan sepatu cats putih. Gayanya sederhana, dengan rambut yang dibiarkan terurai dan sedikit berantakan justru membuatnya enak dipandang. Restu menggenggam tangannya seraya berjalan ke arahku. Dia Nabilla. Gadis tercantik di SMA kami dulu. Restu dan Nabilla masih mempertahankan hubungan mereka hingga sekarang. Restu di Bandung, dan Nabilla meneruskan kuliah di Yogyakarta, satu kampus denganku.
“Kamu pergi sekarang?” Tanya Restu yang wajahnya kini terlihat  sumringah.
Aku mengangguk. “Baik-baik kamu ya..” sambil menepuk pundak Restu yang tingginya satu jengkal lebih tinggi dariku. “Billa, Restu kangen banget katanya tuh!” tambahku.
Nabilla tersenyum kecil, “kamu tuh ya baru aja aku dateng, udah main pergi aja.”
Restu mengantarku ke dalam kereta dan berbisik, “mungkin memang seharusnya aku bertahan.”
Ada sesak dibalik senyumku menanggapi sepenggal pernyataan Restu itu. Tak ada dusta sedikit pun ketika hatiku berkata aku mencintainya, tapi apapun yang terbaik baginya, apapun yang dapat melukiskan senyum di wajahnya, aku ikhlas. Biar Tuhan dengan kuasanya menggariskan muara takdirku, akan kemana dan bersama siapa. Lambaian tangannya yang ku lihat dari kaca kereta, nampaknya akan membuka lembaran rindu yang baru bagiku.